AVIGNAM JAGAD SAMAGRAM "SEMOGA SELAMATLAH ALAM SEMESTA BESERTA ISINYA"


FORUM KOORDINASI POTENSI

PENCARIAN DAN PERTOLONGAN





Forum  Koordinasi Potensi Pencarian dan Pertolongan yang selanjutnya disingkat  FKP3 adalah wadah bagi Potensi Pencarian dan Pertolongan dalam melaksanakan komunikasi, koordinasi, dan konsultasi di bidang Pencarian  dan Pertolongan.

Potensi  Pencarian dan Pertolongan adalah sumber daya manusia, sarana dan  prasarana, informasi dan teknologi, serta hewan, selain Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang  kegiatan penyelenggaraan operasi Pencarian dan Pertolongan.

Operasi  Pencarian dan Pertolongan yang dimaksud adalah operasi Pencarian dan Pertolongan yang dilaksanakan saat kecelakaan transportasi laut, udara,  dan darat, kondisi membahayakan jiwa manusia seperti orang hilang,  tenggelam, dan lain sebagainya, ataupun saat terjadi bencana (baik yang disebabkan oleh alam atau manusia).

 

TUGAS & FUNGSI FKP3

FKP3 mempunyai tugas mengoordinasikan Potensi Pencarian dan Pertolongan untuk mendukung pelaksanaan tugas Badan Nasional Pencarian dan Pertologan. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, FKP3  menyelenggarakan fungsi :

1.

Penyusunan rencana dan program pembinaan.

2.

Penyelenggaraan rapat dan pertemuan lainnya;

3.

Pemberian saran dan masukan terkait kebijakan di bidang Pencarian dan Pertolongan;

4.

Pelaksanaan evaluasi kegiatan.

Penyelenggaran  FKP3 dilaksanakan pada tingkat pusat dan tingkat daerah oleh Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan dengan mengikutsertakan instansi/organisasi yang memiliki Potensi Pencarian dan Pertolongan  secara berkala paling sedikit 2 (dua) kali dalam setahun.

Hal  ini dalam rangka implikasi fungsi perlindungan masyarakat dan untuk meningkatkan swakarsa masyarakat guna dapat menolong diri mereka sendiri dan lingkungannya.

Kemampuan  untuk keterampilan Potensi Pencarian dan Pertolongan yang ada di daerah  perlu dibina dan dikembangkan sesuai dengan kondisi geografi serta kemungkinan ancaman kejadian yang paling mungkin terjadi di daerah  tersebut. Keseragaman dalam pembinaan dan standart kemampuan Potensi Pencarian dan Pertolongan yang ada di daerah perlu dikembangkan oleh setiap daerah sesuai dengan kemampuan dan kondisi daerah tersebut.

Yang paling pokok adalah Pencarian dan Pertolongan merupakan tugas kemanusiaan yang paling hakiki dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang suka bergotong royong. Sifat gotong royong yang saling tolong menolong  antar sesama manusia ini perlu dibina dan dikembangkan sehingga kemampuan menolong dari setiap individu dapat dilaksanakan dengan kemampuan yang profesional. Melalui FKP3 pembinaan kemampuan ini dapat dilaksanakan secara terarah dan profesional.

 

SASARAN YANG INGIN DICAPAI

Adalah  membina kemampuan "Pencarian dan Pertolongan" potensi yang ada di daerah, yang pada saatnya kelak dapat memasyarakat, sehinga potensi perlindungan masyarakat akan meningkat dan kemampuan untuk menolong sesama sebagai implikasi tugas kemanusiaan disisi lain meningkat.

Dalam usaha "Pencarian" akan sangat tergantung pada lokasi kejadian dan peralatan yang digunakan, misalnya pencarian dengan menggunakan pesawat terbang, tekniknya akan berbeda bila kita menggunakan kapal laut. Demikian pula dengan teknik pencarian bila kita menggunakan manusia di suatu lokasi. Teknik pencarian di lokasi kebakaran akan sangat berbeda dengan teknik pencarian pada lokasi banjir, tanah longsor, atau bangunan runtuh. Dengan kata lain untuk pembinaan "Pencarian" memiliki rentang teknis yang cukup kompleks, karena sangat dipengaruhi oleh kondisi medan dan jenis kejadian yang mungkin terjadi.

Didalam kedua parameter tersebut terdapat satu kendala yang paling dominan yaitu, waktu akan sangat mempengaruhi daya tahan korban (Time Frame for  Survival (TFSS)). Semakin dikuasainya teknik pencarian, maka waktu untuk menemukan korban relatif akan semakin singkat.

Hal  ini perlu dikoordinasikan sehingga terjadi kesamaan visi dan adanya saling pengertian dari setiap unsur pencari, sehingga memudahkan teknik berkomunikasi dan berkoordinasi.

Dan usaha "Pertolongan" yang dilaksanakan saat korban ditemukan adalah bagaimana usaha-usaha pertolongan dilaksanakan (dengan asumsi korban dalam keadaan hidup dan butuh pertolongan untuk bertahan hidup, hal ini merupakan bagian yang sangat kritis dalam usaha pertolongan).

Untuk melaksanakan usaha pertolongan hal yang paling pokok yang perlu dibekalkan pada tim Pencari dan Penolong adalah keterampilan untuk melaksanakan "Basic Life Support (BLS)" atau "Medical First Responder (MFR)" pada korban.

Keterampilan-keterampilan tersebut diatas perlu dibina terus menerus dan berkelanjutan serta dimasyarakatkan, karena personil yang ditempat kejadian selalu akan berusaha menolong sesamanya, walaupun kemampuannya terbatas atau tidak tahu sama sekali.

Sebagai ilustrasi, apabila terjadi suatu musibah, yang pertama berada di lokasi kejadian adalah korban akan tetapi korban yang selamat akan berusaha menolong korban yang lain. Yang kedua adalah masyarakat di lingkungan kejadian, mereka akan berusaha menolong, atau bahkan ada yang hanya menonton. Yang terakhir tiba di tempat kejadian adalah tenaga ahli, misalnya tim penolong, dokter, dan sebagainya.

Berdasarkan ilustrasi tersebut, maka alangkah indahnya apabila semua lapisan masyarakat diberikan kemampuan menolong baik untuk dirinya sendiri maupun lingkungan keluarga dan masyarakat sekitarnya, sehingga sifat gotong royong dan cinta sesama yang sudah berakar dalam masyarakat Indonesia dapat diarahkan menjadi suatu ciri yang positif yang dilandasi dengan pengetahuan.

Tugas  dan fungsi FKP3 baru akan terasa manfaatnya pada masa mendatang apabila pembinaan dilaksanakan secara terus menerus, berkesinambungan, bertahap, bertingkat, dan berlanjut. Hal ini merupakan tanggung jawab pemerintah daerah sehingga pada saat swakarsa masyarakat akan timbul untuk mendukung fungsi perlindungan masyarakat.